Jdi na obsah Jdi na menu

Renungan Ronggowarsito W.S. Rendra

28. 7. 2008
http://gatra.com/artikel.php?id=116895 W.S. Rendra Renungan Ronggowarsito W.S. Rendra Diminta menilai kondisi Indonesia pada saat ini, penyair W.S. Rendra tak jauh-jauh memberi perbandingan. Rendra mengacu pada karya penyair abad ke-19, Ronggowarsito, yang terkenal, yakni Serat Kalatida. Sejak kecil, Rendra sudah mendengar kehebatan nama Ronggowarsito. Ia sering mendengar orang-orang keraton menembangkan karya Ronggowarsito. Maklum, rumahnya berdempetan dengan tembok keraton. Kalatida adalah zaman ketika akal sehat diremehkan. Perbedaan antara benar dan salah, baik dan buruk, adil dan tak adil tidak digubris. Krisis moral adalah buah krisis akal sehat. Kekuasaan korupsi merata dan merajalela, karena erosi tata nilai terjadi di lapisan atas dan bawah. Ronggowarsito melengkapi Kalatida dengan Kalabendu. Menurut Rendra, Kalabendu adalah zaman yang mantap stabilitasnya. Tapi alat-alat stabilitas itu adalah penindasan. Ketidakadilan malah didewakan, ulama mengkhianati kitab suci, penguasa lalim tak bisa ditegur, korupsi dilindungi, dan kemewahan dipamerkan di samping jeritan kaum miskin dan tertindas. Tapi, sesudah itu, menurut Ronggowarsito, akan muncul zaman Kalasuba asalkan semua orang sadar dan waspada, berani prihatin, dan tawakal. Setelah Indonesia merdeka hingga saat ini, cara Hindia Belanda masih dilestarikan sebagian elite politik. "Kita sangat bergantung pada modal asing. Pembentukan SDM terbatas melahirkan tukang-tukang, mandor, dan operator. Alam dan lingkungan rusak, karena kita tak berdaya menghadapi kedahsyatan kekuatan modal asing," katanya dalam sebuah seminar bertema "Kebangsaan dalam Pluralisme", yang digelar Universitas Sebelas Maret, Solo, pekan lalu. Soal Kalasuba, Rendra mengaku berbeda dari konsep Ronggowarsito. "Harus ada usaha kita yang lain, tidak sekadar sabar dan tawakal. Kita menghendaki Kalasuba yang tidak dikuasai oleh diktator. Tidak tergantung hadirnya Ratu Adil, tetapi bergantung pada hukum yang adil, mandiri, dan terkawal," ujarnya. Rendra menyebut kontemplasi atas buah pikiran Ronggowarsito itu sebagai, "Sembah sungkem saya yang khidmat kepada penyair besar Ronggowarsito," tuturnya kepada Kastoyo Ramelan dari Gatra.
 

Komentáře

Přidat komentář

Přehled komentářů

Zatím nebyl vložen žádný komentář
 

 

 

Z DALŠÍCH WEBŮ

REKLAMA