Jdi na obsah Jdi na menu

Museum Karl May di Radebeul

27. 7. 2008

Museum Karl May di Radebeul.

Tue Mar 8, 2005 12:21 pm

 

Museum Karl May di Radebeul .

 

Kata “museum” selalu saya hubungkan dengan tempat

dimana dikumpulkan apa saja yang ada hubungannya

dengan nama atau tema dari museum tsb. Demikian

juga Museum Karl May (MKM), satu museum yang

mengoleksi apa saja yang ada hubungannya dengan

KM.

Apalagi MKM ini mengambil tempat di Villa Shater-

hand, rumah kediaman KM dan istrinya yang terakhir

Klara,sampai saat mereka meninggal.

20 tahun yang lalu,untuk pertama kalinya saya dengan

anak saya mengunjungi MKM,hanya saja saat itu MKM

sedang direnovasi,jadi yang dibuka untuk umum hanya

gedung kayu Die Baerenfett, dan karena saat itu musim

panas,jadi banyak pengunjungnya,terutama anak2 seko-

lah,jadi kami praktis tidak dapat melihat apa2.

Tetapi tanggal 11 Desember yang lalu,saya diantar oleh

Bp. John Piry,mengunjungi MKM sekali lagi,dan sudah

resmi jadi warga PMKI, dan saat itu saya baru puas da-

pat menikmati semua yang dipamerkan,dan juga Villa

Shaterhand yang sudah direnovasi,juga karena pengun-

jungnya hanya bbrp glintir,maka saya sempat melihat

tiap exponen berapa lama mau saya,dan juga sempat

menulis bbrp catatan yang saya perlukan.

Yang sangat menarik adalah ruang kerja KM,dengan

perpustakaannya.

Saya sadar bahwa saya tidak akan menemui sesuatupun

yang ada kaitannya dengan tokoh2 dalam bukunya,ka-

rena semua tokoh2 tsb. adalah kaya ada dalam „fan-

tasi“ KM yang luar biasa,dan makin saya sadari,bahwa

KM itu memang luar biasa,semua ceritanya hanya ada

dalam dunia fantasinya,ditulis dikamar kerjanya dan

hanya menggunakan bbrp buku atau ensiklopedi yang

dibutuhkan,yang tersedia saat itu.

 

Jadi saya tidak heran,kalau Ernst Bloch mengatakan :

 

„Es gibt nur Hegel und Karl May. Alles dazwischen

ist eine unreine Mischung!“ Alih basa bebas saya :

„Hanya ada Hegel dan Karel May, lainnya itu ha-

nya suatu campuran yang tidak murni/bersih!”

 

Jangan mengharapkan,kalau kita akan menemui pa-

kaian yang dipakai oleh OS,atau Winnetou,atau

senapan pembunuh beruang atau senapan ajaibnya

OS,atau senapan peraknya Winnetou,atau gambar

Rih atau Hatatita. Semua itu harus kita bayangkan,

dan percaya seluruhnya pada apa yang ditulis KM,

jadi kita harus dapat menempatkan diri kita sebagai

salah seorang saksi mata dari semua kejadian2 tsb.,

dan barulah kita dapat „menikmati“ tulisannya.

Juga kita harus dapat menempatkan diri kita kembali

ke abad 19 dan termasuk cara berpikir saat itu.

Karena itu saya juga tidak mencari dalam peta ,di-

mana suku Apache itu hidup disaat itu,karena saya

pernah membaca buku mengenai suku Indian di

Amerika Utara,bahwa suku Apache itu sendiri ti-

dak eksis.(Apakah ada teman yang dapat menjelas-

kan soal ini ?”)

Juga kalau kita lihat barang2 yang dipamerkan,

yang mengenai „suku“ Apache hanya ada satu

lemari kecil saja.

Foto2 KM sendiri waktu mengunjungi Timteng,

tidak ada hubungannya sama sekali dengan tokoh

Kara ben Nemsi,karena itu hanya sebagai peleng-

kap dokumen,bahwa KM pernah mengunjungi

Timteng,tetapi jauh sesudah selesai menulis ce-

rita2 petualangan Kara ben Nemsi dengan Haji

Omar Halef bin Haji Gozara dsl.

 

Sekian,laporan dan kesan2 saya dari kunjungan

saya ke MKM,tanggal 11.12.2004 yang lalu.

juga rasa terima kasih se-besar2nya saya ucapkan

kepada Bp. Jogn Piry yang sudah bersusah payah

menjemput dan mengantar saya sehari penuh,pa-

dahal hari itu cuacanya dingin sekali.

 

Praha,14.12.2004

Martinus Soedjoko

 

PS.1. Tulisan ini sangat terlambat saya kirimkan,

karena disamping pekerjaan diakhir dan awal

tahun banyak sekali,juga karena hampir 2 bulan

tidal enak badan,maklum tulang2nya sudah ke-

kurangan kapurnya.

PS .2. Sampai saat ini saya masih dalam kondisi

belum “sembuh”,karena ternyata paru2 saya

terserang dan saya anggap enteng,karena saya

telah disuntik anti flu,ternyata jenis flu kali ini

lain,dan suntikan itu tidak mempan.Apalagi seka-

rang ini cuacanya ekstrim sekali,pagi 12 derajat

dibawah 0.siyang sekitar 0 dan malam turun la-

gi .

 

Djoko

Praha,8.3.2005

 

alm. Martinus Soedjoko (mantan mahasiswa Indonesia di Cekoslowakia)

 

Komentáře

Přidat komentář

Přehled komentářů

Zatím nebyl vložen žádný komentář
 

 

 

Z DALŠÍCH WEBŮ

REKLAMA