Jdi na obsah Jdi na menu

Mengapa saya nyandu dengan karya Karl May.

27. 7. 2008

Kata nyandu berasal dari kata candu yang berarti

opium ,tetapi kata nyandu hanya merupakan meta-

morposa dari kegemaran yang berlebih-lebihan

terhadap sesuatu barang ,perbuatan atau hal2 la-

innya, contohnya nyandu sepak-bola,nyandu la-

gu2 dang-dut dsb.,jadi dapat juga berarti yang

positip.

Kalau saya membaca karya KM maka saya jadi

lupa akan keadaan yang nyata ,saya berubah men-

jadi salah seorang yang jadi saksi kejadian2 yang

digambarkan dalam karya2nya,jadi saya memasuki

alam fantasinya KM,seperti kena pengaruh candu

(menurut buku2 atau film,karena saya sendiri ti-

dak pernah mengkonsumsinya).

Terakhir ini saya ulangi membaca bukunya yang

berjudul „Di negeri kayu Eben“,itu jilid ke-3 dari

roman „Di negeri Mahdi“,petualangan KM seba-

gai Kara ben Nemsi di sekitar Sungai Nil,dengan

diantar oleh Ben Nil,dimana KM menulis perbe-

daan antara kuda dan onta,karena dalam petu-

alangan di gurun pasir tsb. mereka tentu saja

menggunakan onta.

Dibawah ini saya cuplikan „jalan pikiran“ KM :

Hanya dua orang saja di padang pasir yang sa-

ngat luas itu,dimana sinar matahari sangat menye-

ngat,sehingga timbul dalam pikiran mereka,

bahwa mereka se-olah2 dimasak di keringatnya

sendiri dan harus selalu menarik kain penutup

kepalanya untuk menutupi mukanya,supaya

dapat melindungi matanya terhadap kilauan

sinar matahari tsb. yang dapat menyebabkan

buta.

Tidak ada yang dapat dibicarakan,seperti su-

dah saling mengerti tanpa kata,kalaupun ingin

berbicara juga sulit,karena lidahnya jadi kering,

jadi lebih baik diam. Suasana sangat sepi,hanya

cakrawala yang sangat cerah,matahari seperti bola

api,dan hanya pasir saja disekeliling dimuka,

disamping,dibelakang dan didepan .

Onta berjalan setapak demi setapak,dengan

mengangkat kakinya secara otomatis,seperti

kilang kincir angin saja,tanpa gairah seperti

kuda yang baik,tidak berkomunikasi dengan

penumpangnya,tidak merasa gembira atau sedih

seperti penumpangnya.

Kuda dan penumpangnya dapat menjadi kawan,

ttapi onta dengan penumpangnya tidak sama

sekali,meskipun itu onta pilihanpun. Tidak

ada hubungan batin,itu terlihat juga dari cara

duduknya,di atas onda berbeda dengan diatas

kuda.

Penumpang kuda mengapit badan kuda dengan

kedua kakinya,terasa sentuhan otot penumpang

dan kudanya, terasa kedekatannya.

Kuda kadang2 dapat menerka kemauan penumpang-

nya lebih dahulu sebelum menerima perintah . Kuda

mencintai penumpangnya,mendengarnya,lari ke-

manapun si penumpang ingin. Beda dengan onta,

penumpangnya duduk tinggi dipunggungnya,terasa

sentuhan kakinya hanya kalau si penumpang menyi-

langkan kakinya diatas lehernya,jadi tidak ada peng-

hubung langsung,penumpang duduk seperti disingga-

sana,jauh lebih tinggi,jadi menggambarkan bahwa

si penumpang adalah tuan dan onta hanya budak.

Onta seperti budak belian,dan kuda seperti pegawai

yang bijak,jadi sangat sulit adanya saling pengertian

antara onta dan penumpangnya,onta hanya pasrah

saja,kadang2 berkeras kepala,tetapi jadi pasrah lagi

kalau dipukul,jadi tidak mungkin muncul rasa „cinta“

antara onta dan penumpangnya. Meskipun penum-

pangnya merasa,bahwa dia mengendarai makluk hi-

dup,tetapi sulit untuk menjalin hubungan,seperti dua

makluk yang berbeda,dan kesepian. Sebab itu penum-

pang merasa tersiksa dengan rasa kesepiannya.

Kuda berreaksi,dengan mengendus napasnya,dengan

suaranya,dengan gerakan telinganya,kepalanya dan

ekornya,atau cara jalannya,se-olah2 berkomunikasi

dengan penumpangnya,juga kalau ada sesuatu mem-

beri isarat pada penumpangnya,sedangkan onta ke-

lihatan rasa acuh tak acuhnya,paling2 hanya memi-

kirkan pakanan saja dan membawa penumpangnya

tanpa dapat mengenalnya lebih dekat, jadi dapat

disamakan dengan orang yang realis ,sedangkan

kuda dapat disamakan dengan orang yang romantis

dan naturalis,kuda dan penumpangnya saling merasa

simpati .

Jadi benar2 mengendarai onta digurun pasir meru-

pakan hal yang sangat menyiksa,yang sangat mem-

bosankan ,penumpangnya merasa mengantuk dan

hanya tahu ,bahwa ontanya meninggalkan jejak

garis yang lurus ,garis yang tak berakhir menuju

kedepan. Tak lebih dan dan kurang.

 

Catatan saya : Waktu KM menulis karyanya tsb.

dia hanya berfantasi saja,tetapi fantasinya me-

ngenai kuda dan onta tepat sekali,se-olah2 KM

berpengalaman dalam mengendari ke-dua2nya.

Sebab itu saya nyandu sekali dan kalau kita

simak lebih teliti,banyak isi tulisan2nya yang

patut dikagumi.

 

Praha, awal musin Semi 2005.

 

Djoko

 

alm. Martinus Soedjoko (mantan mahasiswa Indonesia di Cekoslowakia)

 

Komentáře

Přidat komentář

Přehled komentářů

Zatím nebyl vložen žádný komentář
 

 

 

Z DALŠÍCH WEBŮ

REKLAMA